Hari gini hidup itu serba susah. Makanya yang punya harta lebih (tentunya lebih banyak) haruslah pandai-pandai me-manage, agar tidak menyesal dengan menggunakannya kepada hal-hal yang “ngga penting”.
Dan jauh lebih penting lagi kita menghimbau diri kita untuk berhemat, karena anda semua tentu merasakan bagaimana mahalnya ongkos angkutan kota saat ini. Yang bekerja saja merasakan bagaimana ongkos yang tadinya sekian ribu rupiah tiba-tiba dengan adanya kenaikan harga BBM menjadi naik sekian rupiah. Tetapi, yang lebih “kasihan” lagi mengingat para pelajar yang keberatan ongkos, jikala sekolah atau kampus mereka (termasuk saya) harus ditempuh dengan angkot atau bus kota. Mahalnya kalau dihitung per hari, alamak ! Ibarat pendapatanku habis buat ongkos.
Satu waktu, ketika aku terdiam sejenak dan berpikir tentang sesuatu (entah lagi mikirin apa?) suddenly, ada pikiran yang melintas untuk bikin tulisan ini, dengan topik utama “Kenapa ongkos pelajar harus gratis ???”. Beginilah alasan yang saya pribadi bisa kemukakan, yaitu sbb :
Pertama, pelajar bukanlah pekerja. Otomatis mereka pasti masih minta sama ortunya. Dan ortu itu pasti haruslah menanggung beban-beban hidup lain selain ongkos anaknya untuk sekolah. Mereka harus mencari nafkah yang utama untuk makan dan untuk biaya keseharian, harus berpikir juga tentang pengeluaran yang sudah pasti dikeluarkan tiap bulannya, misalnya untuk biaya listrik dan air, untuk SPP bulanan anaknya, atau bisa juga cicilan untuk bayar rumah atau kontrakan.
Kedua, pekerja yang juga pelajar (mahasiswa/i) pusing mikirin pembagian pendapatan mereka setiap bulan untuk mengeluarkan hampir sebagian pendapatan untuk ongkos pulang pergi tempat kerja sama kampus. Belum lagi cicilan yang harus dibayar demi kuliah tetap berjalan lancar. Beuuh … Untuk yang pekerja awam pastilah berat untuk keadaan yang seperti ini. Kecuali yang sudah benar-benar mapan dan sudah tak perlu pusing lagi memikirkan uang untuk ini-itunya.
Ketiga, alasan yang cukup untuk mengemukakan bahwa ongkos pelajar harus gratis adalah “tugas pelajar adalah belajar”. Jadi pusinglah pasti kalau mereka juga harus ikut memikirkan itu setiap hari. Kalau orang tua mereka mampu memberi kewajiban itu setiap hari, hal itu sekali lagi tak akan membuat hambatan anak-anaknya. Perlu sekali untuk diperhatikan pekerjaan orang tua setiap anak juga berbeda dan jumlah penghasilan mereka tentulah berbeda.
Keempat, pelajar adalah amanat negara. Sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 perubahan ke-IV Bab XIII pasal 31 ayar 3 yang isinya ;
“Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.”
Dan pasal pendukung yang menurut saya pas adalah pasal 34 ayat 2 yang isinya ;
“Negara mengembangkan sistem jaringan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.”
Isi pasal yang lainnya ada yang menyatakan bahwa anggaran pendidikan adalah 20% dari pendapatan nasional. Jadi, jelas bahwa pendidikan adalah negara yang menanggung, selebihnya juga ada dari pendapatan daerah untuk sekolah dan kampus. Kecuali lembaga-lembaga pendidikan lain selain sekolah (tempat kursus/les lainnya).
Pada pasal 34 dijelaskan kira-kira seperti ini :
Negara memberikan hak kepada seluruh rakyat termasuk rakyat yang tidak mampu untuk suatu pengembangan jaringan sosial dan itu diperuntukkan untuk mereka. Dan negara akan memberdayakan mereka “masyarakat yang lemah dan tidak mampu” tadi sesuai dengan martabat kemanusiaan. Tapi sepertinya pernyataan yang disebutkan tadi masih “omdo” alias baru omong doang. Karena masih banyak kalangan urban yang menjadi gelandangan dan pengemis, preman, pemalak, pengamen, dsb yang keberadaan mereka masih terbilang mengganggu dan membuat risih kita semua.
Kelima, lagi-lagi harus ingat … harga BBM tidak mungkin semakin turun, sekarang saja harganya yang segitu sudah membuat kepala pusing, apalagi bertahun kemudian.
Demikian pendapat saya yang telah saya tuangkan ke dalam blog ini. Kesalahan atau kekurangan yang terdapat pada blog ini adalah manusiawi, karena saya adalah seseorang yang masih dalam tahap pendewasaan berpikir dan mengutarakan. Semoga dapat memberikan sebuah inspirasi. Terlebih lagi jikalau ada saran ataupun kritik yang membangun untuk blog ini, silahkan.