Write to be Right !!

Desember 31, 2008

What a Beautiful Town, isn’t it ?

Filed under: Around Us — Izmi @ 3:04 am

Bahagia banget ya, melihat Jakarta sepi kendaraan. Terutama jika libur hari-hari besar menjelang dan akhir tahun. Duh, rasanya ingin setiap hari melihat Jakarta seperti pagi ini. Ditambah lagi cuaca yang agak mendung. Tampaknya makin sempurna saja suasana liburnya.

Biasanya, kalau pagi melihat jalan menuju Kebon Jeruk dan Tomang yang padat merayap abees, bisa juga macet total sampe daerah Slipi, pagi ini saya bisa lihat jalan itu jadi lega banget, bersih, dan jauh dari keramaian yang biasanya bikin wajah jadi ngga karuan lebih dulu sebelum tiba di kantor.

Jarak menuju Sudirman-Thamrin yang biasanya ditempuh dengan waktu dua jam dari Tangerang, hari ini saya cuma menghabiskan waktu setengah jam saja untuk tiba di kantor tepat waktu.

Ternyata, solusi untuk mengurangi pemakaian kendaraan bermotor bisa dilihat hasilnya dengan pengandaian yang saya bayangkan di hari ini. Jalanan menjadi lebih lancar, ngga sumpek. Dan bisa mengurangi polusi, hemat BBM pula.

Tak ada salahnya berandai-andai. Tapi, lebih bagus lagi jika pengandai-andaian itu bisa dibuktikan dan dijadikan solusi untuk masalah kemacetan terutama di daerah padat penduduk dan padat pekerja seperti Jakarta.

Today, i can really say that “What a beautiful town, isn’t it?”. Jakarta yang indah ngga diwujudkan dengan tidak membuang sampah sembarangan saja atau dengan sekedar gerakan kepedulian saja. Semua itu tak akan pernah jadi kenyataan kalau tidak diamalkan dalam keseharian kita. Inilah yang dimaksud dengan pentingnya peran kita sebagai warga negara dan sebagai satu bagian penting dalam masyarakat.

So, mau nunggu apa lagi untuk bisa bilang “This is my lovely city named Jakarta”. Nunggu banjir, sampai kota ini tenggelam ? Atau sampai kiamat sekalian ? 😉

Iklan

3 Komentar »

  1. Nunggu apa lagi? Nunggu kena batunya baru sadar 🙂

    Seperti nasihat lama “The proof of the pudding is in the eating”
    Kalau terasa enak/gak enak seharusnya ada perubahan sikap, cara pandang dan cara berpikir. Biasanya kita baru sadar sesuatu itu benar namun terlambat saat kita menuai hasilnya.

    Komentar oleh yonna — Januari 7, 2009 @ 8:01 am | Balas

  2. Ternyata budaya nunggu bisa disalahartikan juga mba Yon … :mrgreen:
    Nunggu bisa diartiin jelek juga ya … nunggu kena batunya baru sadar, nunggu sesuatu yang ga mungkin dateng kalo dari kita sendiri ga mau ngapa2in …

    Jakarta juga begitu, ga bisa bener kalo yang tinggal di sini belom bener2 mau berubah. Sama aja kayak pungguk merindukan si bulan, hehe.

    Komentar oleh Izmi — Januari 8, 2009 @ 8:05 am | Balas

  3. Masih bagus mau sadar walau sudah kena batunya, coba kalo ga sadar2, tuh batunya kurang gede ya?! Haha. Sejak peristiwa kemacetan, banjir, dll beberapa warga Jakarta udah mulai sadar dan banting setir. Contohnya Bike To Work yang peduli lingkungan atau komunitas2 lain yang bermunculan yang bertujuan serupa….ingin membuat Jakarta lebih baik dan nyaman.

    Komentar oleh yonna — Januari 8, 2009 @ 8:22 am | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: